PsikoDeks
Buka Kamus Psikologi
Psikologi SosialBudaya

arranged marriage (pernikahan yang diatur)

arranged marriage

Ringkasan Singkat

Pernikahan yang direncanakan dan dikontrak oleh orang tua atau kerabat, di mana persatuan dianggap sebagai penggabungan dua kelompok kekerabatan.

Pernikahan yang diatur adalah praktik budaya di mana pemilihan pasangan hidup ditentukan oleh pihak ketiga, biasanya orang tua atau tokoh masyarakat, bukan berdasarkan pilihan romantis individu semata. Dalam konteks budaya di mana praktik ini lazim, pernikahan dipandang sebagai aliansi strategis antara dua keluarga atau kelompok sosial untuk menjaga tradisi, status ekonomi, atau keharmonisan sosial. Hal ini kontras dengan konsep "pernikahan cinta" (love match) yang menekankan otonomi individu dan ketertarikan emosional pribadi.

Dari perspektif psikologi lintas budaya, pernikahan yang diatur sering kali melibatkan proses penyesuaian yang berbeda, di mana komitmen dan kasih sayang diharapkan tumbuh seiring berjalannya waktu setelah pernikahan. Meskipun sering disalahpahami di dunia Barat, banyak pernikahan yang diatur tetap melibatkan persetujuan dari para calon mempelai dan menunjukkan tingkat stabilitas yang tinggi dalam struktur sosial tertentu.

Referensi Yang Bisa Anda Gunakan

  • APA Dictionary of Psychology
  • Epstein, R., Pandit, M., & Mansson, M. (2013). How love emerges in arranged marriages.
Ditambahkan: 5 Mei 2026
Diperbarui: 7 Mei 2026

Peringatan Sitasi Akademik

Halaman ini disusun murni sebagai alat bantu pemahaman awal. Dilarang keras mengutip halaman ini sebagai sitasi utama dalam karya ilmiah atau tugas akhir. Silakan gunakan literatur primer yang tercantum pada daftar pustaka.

Feedback